DeddyCorbuzier," demikian pengumumannya, Selasa (10/8/2021). Di caption, ayah satu anak ini menulis kalimat bijak. Baca Juga: Alasan Deddy Corbuzier Berhenti Gunakan Media Sosial, Ini Jawaban Penggemar. "Bahkan dalam sarungnya pedang harus tajam - demikian juga pikiran dan roh harus ada di dalam tubuh," tulisnya.
Perintahtersebut dapat bersifat hubungan antara manusia dan Dia (habluminallah) maupun perintah yang bersifat antara hubungan ke sesama manusia (habluminannas). Surah An Nisa sendiri merupakan surah yang ke-3 di dalam Al Quran dengan jumlah ayat hingga mencapai 176 ayat. Sebab itulah surah An Nisa masuk dalam surah-surah panjang Al Quran.
SementaraPohon Janadaru berasal dari kata jana dan daru. Jana berarti manusia, dari berarti cahaya, sehingga Janadaru dapat diartikan sebagai cahaya kemanusiaan. Pohon Janadaru letaknya di sisi timur bersisian dengan Pasar Beringharjo dalam sumbu filosofis. Pohon ini bermakna hubungan antara manusia dengan manusia atau habluminannas.
Hidup itu ada vertikal dan horizontal, ada Habluminallah dan Habluminannas," kata Vicky membuka komentarnya. "Habluminallah, bagaimana hubungan kita dengan sang Khalik Allah SWT sang maha
Pengertianpopulernya, hablum minannas yaitu hubungan dengan sesama manusia dalam bentuk mu'amalah. Dari segi bahasa, muamalah berasal dari kata aamala, yuamilu, muamalat yang berarti perlakuan atau tindakan terhadap orang lain. Jadi, Muamalah adalah hubungan manusia dalam interaksi sosial, termasuk masalah harta, waris, dan jual-beli.
Haditsdi atas mengandung 3 wasiat Nabi yang sangat penting, yakni wasiat tentang hubungan secara vertikal manusia kepada Allah ( habluminallah) dan hubungan secara horizontal sesama manusia (habluminannas). 1. Perintah Bertakwa kepada Allah Dimanapun Berada. Takwa yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak mengenal tempat.
Alangkahbaiknya kita sebagai umat muslim mampu mempratikkan adab-adab yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Berikut beberapa adab-adab makan dan minum menurut pandangan islam. 1. Mengonsumsi makanan halal. Sebagai seorang muslim, kita wajib mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal.
Kalaumasalah karakter ini berarti ada hubungan habluminallah atau hubungan antara manusia dan tuhannya,” kata Iqbal. Tidak hanya mengingatkan hubungan antara manusia dan tuhan, dalam kasus Dede ini, YDBA juga mengingatkan hubungan Dede dengan sesama manusia (habluminannas). Yakni, Dede tidak hanya diingatkan soal ibadah dengan Tuhan,
nfyay. Jakarta Allah tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Nya. Dalam ajaran agama Islam, apa yang dimaksud dengan ibadah memiliki spektrum yang sangat luas. Ibadah tidak hanya mengacu pada ritual yang menunjukkan hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, melainkan juga merujuk tentang bagaimana manusia berhubungan dengan manusia lainnya. Maka dalam Islam dikenal konsep Habluminallah Habluminannas. Arti Taqabbalallahu Minna Wa Minkum, Ketahui Makna dan Cara Menjawabnya Doa Meninggal Perempuan dalam Bahasa Arab dan Artinya, Patut Dibaca oleh Umat Muslim Shobahul Khoir Artinya Selamat Pagi, Berikut Bentuk-Bentuk Salam dalam Bahasa Arab Habluminallah Habluminannas merupakan dua hal penting yang harus dijaga keseimbangannya oleh seorang muslim untuk mencapai kesempurnaan ibadahnya. Habluminallah Habluminannas harus bersinergi, keduanya harus berjalan berdampingan. Tidak dibenarkan jika seorang muslim yang begitu taat dengan rajin melaksanakan amalan wajib dan sunnah tanpa tertinggal, namun dia dengan mudah mengeluarkan kata-kata yang menyakiti orang lain. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ “Sebaik-baik kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan orang lain merasa aman dari kejelekannya.” HR. At-Tirmidzi no. 2263. Berikut penjelasan selengkapnya mengenai konsep Habluminallah Habluminannas, seperti yang telah dirangkum dari berbagai sumber, Kamis 1/6/2023.Ribuan jemaah haji asal Indonesia menjalani sholat Jumat perdana di Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi, pada hari ini, Jumat 26/5/2023. Jemaah haji Indonesia terlihat begitu antusias berjalan kaki mendatangi masjid Habluminannas merupakan bagian dari konsep takwa. Seperti dikutip dari laman Universitas Darul Ulum Jombang, takwa memiliki dua dimensi hubungan, yakni Habluminallah Habluminannas. Habluminallah adalah hubungan vertikal antara manusia dengan Allah. Sedangkan Habluminannas adalah hubungan horizontal antara manusia dengan sesama manusia, atau yang lebih luas lagi yakni hubungan antara manusia dengan makhluk lainnya. Takwa yang baik dan benar adalah takwa yang mengandung adanya keseimbangan antara manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan makhluk lain, yang sering disebut sebagai Habluminallah Habluminannas. Keseimbangan Habluminallah Habluminallah ditandai dengan seimbangnya hubungan vertikal yang berkaitan langsung dengan Allah, serta hubungan dengan sesama manusia dan makhluk Habluminallah HabluminannasIlustrasi zakat. Photo by master1305 on FreepikPerwujudan konsep Habluminallah Habluminannas dapat dilihat dari bagai seseorang bersikap. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa tidak dibenarkan jika seorang muslim hanya mengutamakan Habluminallah saja, dengan rajin menjalankan shalat sunnah, namun dengan mudah dia mengeluarkan kata-kata yang dapat menyakiti orang lain. Memang benar jika dilihat dari bagaimana shalat dikerjakan, hal itu memang mengedepankan hubungan manusia dengan Allah SWT. Akan tetapi bukan berarti tidak ada dimensi sosial dalam shalat. Shalat yang memiliki keseimbangan Habluminallah Habluminannas adalah shalat yang dapat menghindarkan kita dari tindakan keji dan munkar. Allah SWT berfirman, “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu Muhammad, yaitu Al Kitab al Quran dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah shalat itu lebih besar keutamaannya dari ibadah yang lain. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” QS. Al-Ankabut 45 Ayat tersebut memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW dan tentunya kita sebagai umatnya, agar senantiasa berinteraksi dengan al Quran, dengan cara membaca, mempelajari, memahami, menghayati, dan mengamalkan isi kandungannya. Allah SWT juga memerintahkan untuk mendirikan shalat secara berkesinambungan dan khusyu’. Shalat yang didirikan secara berkesinambungan dan khusyu’, sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya, dapat dipastikan akan mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar, karena kemampuannya dalam menerjemahkan nilai-nilai shalatnya. Hal itu juga akan tampak dari bagaimana cara seseorang memperlakukan keluarga, tetangga, dan orang lain, sehingga orang di sekitar pelaku shalat ini akan merasa aman. Perwujudan Habluminallah Habluminannas juga dapat dilihat dari ibadah zakat. Zakat adalah ibadah bentuk ibadah yang menunjukkan perwujudan Habluminallah Habluminannas. Habluminallah karena ketika zakat kita menjalankan perintah Allah SWT, Habluminannas karena dampak zakat tidak hanya bisa dirasakan oleh pelakunya, tapi juga dirasakan masyarakat yang lebih luas dan dapat membantu meringankan kesulitan yang mereka Habluminannas yang Tidak SeimbangIlustrasi Foto Persekusi iStockphotoKeseimbangan Habluminallah Habluminallah sangat penting untuk diupayakan. Sebagai muslim kita tidak boleh hanya taat dalam menjalankan shalat, namun banyak dari perbuatan yang kita lakukan, baik itu berupa tindakan maupun kata-kata, justru membuat orang di sekitar kita merasa tidak aman, merasa terluka, dan dirugikan. Dikutip dari laman Universitas Darul Ulum Jombang, Ustadz Abdul Natsir menjelaskan bahwa manusia yang bangkrut adalah manusia yang ketika hari kiamat datang, ia membawa pahala solat, zakat,dan ibadah wajib lainnya. Akan tetapi semasa hidup di dunia manusia ini mengatakan perkataan yang jelek, fitnah, mencela tetangga, sehingga pahala manusia ini sedikit demi sedikit berkurang karena protes dari manusia lain yang telah dizalimi. Pahala tersebut terambil dan ditambah dosa dari manusia yg dizalimi. Ini menunjukkan manusia ini tidak menjaga keseimbangan hubungan antara dengan Allah dan dengan manusia lainnya. Menyakiti tetangga, menganiaya orang lain, atupun perbuatan zalim lainnya menyebabkan ibadahnya sia-sia dan dilemparkan ke neraka. Dari penjelasan tersebut dapat kita pahami bahwa menjaga keseimbangan Habluminallah Habluminannas adalah hal yang sangat penting sebagai hamba yang bertakwa kepada Allah SWT. Jangan sampai shalat, puasa, dan dzikir kita menjadi sia-sia, karena kita tidak menjalin hubungan yang baik dengan sesama manusia.* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.
Apa pengertian Hablum Minallah dan Hablum Minannas? Apa hubungannya dengan Kesalehan Individu dan Sosial serta Ubudiyah dan Muamalah?DALAM menjalani kehidupan sebagai Muslim, kita harus memperhatikan dua hal, yakni hubungan dengan Allah SWT dan hubungan dengan sesama dengan Allah SWT terkait kesalehan individu sebagai hamba Allah. Hubungan dengan sesama mansia terkait dengan kesalehan sosial sebagai makhluk sosial yang kita terhadap Allah dan manusia adalah amal perbuatan yang akan dicatat oleh malaikat Kiraman Katibin, sekecil apa pun perbuatan kita, baik atau Hablum Minallah dan Hablum MinannasHubungan dengan Allah sering disebut Hablum Minallah حَبْلٍ مِّنْ اللَّهِ. Hubungan dengan sesama manusia sering disebut Hablum Minannas حَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ.Secara bahasa, hablum minallah artinya adalah hubungan dengan Allah dan hablum minan-nas adalah hubungan dengan istilah ini tercantum dalam Al-Qur'an surat Ali Imron 112ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُواْ إِلاَّ بِحَبْلٍ مِّنْ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَآؤُوا بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُواْ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الأَنبِيَاء بِغَيْرِ حَقٍّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُواْ يَعْتَدُونَ"Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali agama Allah dan tali perjanjian dengan manusia dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas."Dalam ayat di atas, hablum minallah maknanya perjanjian dari Allah, yaitu masuk Islam atau beriman-Islam dan siap melaksanakan rukun iman dan minan-nas bermakna erjanjian dari kaum Mukminin dalam bentuk jaminan keamanan bagi orang kafir dzimmi dengan membayar upeti bagi kaum Mukminin melalui pemerintahnya untuk hidup sebagai warga negara Islam dari kalangan minoritas non-Muslim. Tafsir At-Thabari , Tafsir Al-Baghawi , dan Tafsir Ibnu Katsir.Pengertian Hablum Minallah 'UbudiyahHablum minallah menurut bahasa berarti hubungan dengan dalam pengertian syariah, makna hablum minallah sebagaimana yang dijelaskan di dalam tafsir At-Thabari, Al-Baghawi, dan tafsir Ibnu Katsir adalah "Perjanjian dari Allah, maksudnya adalah masuk Islam atau beriman dengan Islam sebagai jaminan keselamatan bagi mereka di dunia dan di akhirat"Hablum minallah dilaksanakan dengan ibadah. Dengan kata lain, hablum minallah adalah aspek 'ubudiyah عبودية atau ritual ibadah kita kepada Allah SWT."Ibadah" atau "ubudiyah" sering diartikan sebagai "penghambaan" dengan melaksanakan perintah Allah SWT, menghambakan diri kepada-Nya, atau menyembah Allah berasa dari kata'abada yang artinya hamba. Baca Pengertian Hamba Allah .Imam Ghazali pernah ditanya mengenai 'ubudiyah. Ia menjawab ubudiyah adalah kumpulan dari tiga hal1. Menunaikan perintah Rela dengan ketentuan dan takdir serta pembagian rezeki dari Allah Meninggalkan kehendak nafsunya untuk mencari keridhoan Allah SWT.”Ibadah adalah tujuan penciptaan manusia oleh Allah خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku" QS. Adz-Dzariyat 56.وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus” QS Al-Bayyinah 5.Pengertian Hablum Minannas Mu'amalahPengertian populernya, hablum minannas yaitu hubungan dengan sesama manusia dalam bentuk mu' segi bahasa, muamalah berasal dari kata aamala, yuamilu, muamalat yang berarti perlakuan atau tindakan terhadap orang Muamalah adalah hubungan manusia dalam interaksi sosial, termasuk masalah harta, waris, dan mempunyai banyak cabang, di antaranya politik, ekonomi, dan sosial. Secara umum muamalah mencakup dua aspek, yakni aspekadabiyah danmadaniyah .1. Aspek adabiyah yakni kegiatan muamalah yang berhubungan dengan akhlak, seperti kejujuran, sopan-santun, dan Aspek madaniyah adalah aspek yang berhubungan dengan kebendaan, seperti halal haram, syubhat, madaratan, dan lainnyaPengertian Kesalehan Individu dan SosialHablum minallah dikenal juga dengan istilah kesalehan individu atauibadah mahdhah . Hablum minannas dikenal dengan istilah kesalehan sosial atau ibadahghair mahdhah .Keduanya harus seimbang. Kesalehan individu harus sama baiknya dengan kesalehan sosial. Jika rajin sholat, zakat, puasa, dzikir, doa, alias hubungan dengan Allah baik, namun hubungan dengan sesama manusia buruk, maka bisa-bisa jadi "orang bangkrut" di akhirat suatu kesempatan, baginda Nabi Muhammad SAW bertanya kepada para sahabatnya. "Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu al-muflis?'' Mereka menjawab, "Menurut kami, yang bangkrut itu adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan.''Lalu Beliau bersabda, "Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan membawa shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, memakan harta, membunuh, dan menyakiti orang itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang yang dianiayanya sampai habis, sementara tuntutan masih banyak yang belum terpenuhi. Lalu, sebagian dosa mereka dibebankan kepadanya hingga ia dilemparkan ke neraka.'' HR Muslim.Manusia itu ada empat macam1. Orang yang beramal ritual dan tidak berdosa sosial. Ia disebut orang yang beruntung QS 2867.2. Orang yang tidak beramal ritual dan tidak pula berdosa sosial, ia disebut orang merugi QS 18103-104.3. Orang yang tidak beramal ritual, tetapi beramal sosial, ia disebut orang yang tertipu QS 4142.4. Orang yang beramal ritual, tapi banyak mela ku kan dosa sosial, ia disebut orang yang bangkrut secara ha kiki 4911-12.Demikian ulasan tentang Pengertian Hablum Minallah, Hablum Minannas, Kesalehan Individu, Kesalahen Sosial, ibadah mahdhoh, ibadah ghoir mahdhah, ibadan dan mu'amalah yang harus kita lakukan seimbang, sama-sama kita diberi hidayah, taufik, dan kekuatan serta keikhlasan untuk mengamalkannya. Amin! Wallahu a'lam bish-shawabi.
Bengkalis PRC - Islam mengajarkan keseimbangan. Artinya, meski kita hidup di dunia hanya sementara, dan kehidupan di dunia hanyalah jembatan menuju kehidupan akhirat yang kekal, akan tetapi Islam sama sekali tidak menafikan kebutuhan duniawi kita. Oleh karena itu, dalam Islam dikenal istilah Hablumminallah dan Hablumminannaas, yaitu hubungan vertikal antara manusia dengan Allah sang Pencipta, dan hubungan horizontal antara manusia dengan sesamanya. Pada dasarnya, Hablumminallah maupun Hablumminannaas bukanlah hal yang terpisah, justru keduanya memiliki hubungan saling mempengaruhi dan menjelaskan. Maksudnya adalah ketika hubungan kita dengan Allah sedang baik, intens, dekat, hal itu pasti akan berefek pada hablumminannas kita. Tiba-tiba saja ada orang yang membantu kita menyelesaikan permasalahan yang pelik, hubungan kita dengan keluarga semakin lebih baik, hubungan dengan teman-teman jadi tambah asyik, pokoknya banyak terjadi hal yang seolah magic. Begitu pula sebaliknya, ketika Hablumminallah kita buruk, biasanya akan mempengaruhi hubungan kita dengan sesama manusia, entah itu orang tua kita, sahabat, teman sekelas, teman sekerja, tetangga, bahkan hubungan dengan orang yang tidak kita kenal pun bisa ikut-ikutan buruk! Tiba-tiba saja ada yang mencuri HP kita, atau aib yang selama ini kita tutup-tutupi terbongkar, bahkan hal yang seharusnya tidak jadi masalah malah jadi masalah besar, pokoknya hari-hari terasa susah dan tambah gerah. Hal ini memberikan arti bahwa Hablumminallah mempengaruhi Hablumminannaas. Demikian juga, hubungan kita dengan sesama manusia dapat menjelaskan keadaan hubungan kita dengan Allah. Artinya, ketika kita merasa hubungan dengan keluarga lagi jelek, hubungan dengan rekan sekerja atau teman sekelas juga begitu, tiap kita bicara selalu ada yang keliru, rasanya seluruh dunia menjadi musuh. Bisa jadi... hal tersebut merupakan alarm peringatan bahwa Hablumminallah kita sedang dalam kondisi yang harus segera diperbaiki! Hablumminallah Bagus, Tapi Kok... Pernahkah merasa begini Hablumminallah saya bagus kok, saya shalat tepat waktu, lima kali sehari plus shalat sunah, saya puasa Senin-Kamis, malah kadang puasa Dawud sehari puasa, sehari tidak, ngaji rutin, tapi kok saya tetap bermasalah, hubungan saya sama orang lain tetap buruk. Namanya manusia, kadang bisa menilai diri sendiri lebih tinggi dari yang sebenarnya. Istilah tepatnya Kege-eran! Nah, jangan sampai kita keseringan merasa ge-er. Mentang-mentang dipanggil Ustad, Ustadzah, guru ngaji, sering ngisi taklim ini-itu, hapal berpuluh-puluh juz, atau bolak-balik Mekah tiap tahun, kita jadi menilai hablumminallahkita sudah oke. Jadi kita merasa berhak men-cap Allah tak adil ketika kita ditimpa masalah, ketika hubungan kita dengan sesama manusia memburuk. Oh... tidak! Jangan-jangan ketika shalat, badan kita saja yang lagi "senam", mulut komat-kamit, tapi sesungguhnya hati kita bahkan tidak sadar sedang mengucap apa, persis seperti robot otomatis, baca al-Fatihah dan surat pendek selayaknya hapalan lagu Indonesia Raya, atau mungkin lebih parah. Ketika kita puasa, perut saja yang bisa menahan diri dari makanan, sedangkan lidah masih asyik berdusta, mata masih nyalang memperturutkan nafsu, atau hati berniat puasa untuk sekedar pamer kealiman, atau juga... kita berpuasa karena memang tidak punya uang cukup, jadi puasa supaya berhemat. Sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui. Wah! Atau jangan-jangan... ketika kita beribadah haji, semata-mata dilakukan agar orang-orang tahu kekayaan kita, juga supaya lebih disegani, atau untuk menggugurkan kewajiban naik haji sekali seumur hidup, jika demikian... itu berarti ibadah-ibadah yang kita lakukan hanya untuk membuat diri kita lega saja, bukan benar-benar untuk melaksanakan hablumminallah, tetapi hanya untuk melepaskan beban "wajib". Jadi jangan protes ketika Allah menegur kita lewat manusia lain. Misalnya, ketika kita bicara tidak didengar atau diremehkan oleh orang lain, ketika kita menasehati tidak digubris, ketika meminta tolong tidak dibantu, kita tidak memiliki power terhadap manusia lain. Bisa jadi itu merupakan indikasi adanya sesuatu yang salah dengan ibadah kita belakangan ini. Hubungan kita dengan Allah tidak terjaga. Mungkin kita memakan makanan haram, menggunakan uang dari cara tidak halal, atau melakukan hal yang dilarang oleh Allah, seperti berdusta, berzina, memfitnah, mengkhianati amanah, membangkang pada orangtua, dan lain sebagainya. Hablumminannaas-nya Oke, Padahal Hablumminallah Buruk. Kok Bisa? Hablumminallah saya kayaknya standar, biasa aja, shalat kalau ingat, puasa kalau kuat, tapi hubungan saya sama lingkungan sekitar baik-baik aja tuh! Hablumminannaas saya oke. Sekali lagi, namanya manusia... sering salah menilai, atau istilah pas-nya Tertipu! Makanya hati-hati, jangan sampai kita tertipu! Kita merasa hablumminallah tidak penting-penting amat, karena toh tidak berefek pada hidup sehari-hari, buktinya... hubungan dengan teman-teman tetap mulus, lancar, begitu pula hubungan dengan keluarga, oke-oke saja tuh tanpa masalah, meskipun shalat bolong, baca Quran masih mengeja, yang penting hati baik, lisan kita baik, maka hidup di dunia ini jadi baik juga. Benarkah demikian? Pandangan seperti inilah yang mengkhawatirkan, kita tertipu dengan hablumminannaas yang terlihat oke, sehingga kita lupa bahwa sesungguhnya dari seluruh amalan yang kita lakukan di dunia ini, pertama kali yang akan ditanyakan di padang mahsyar kelak adalah perkara mengenai shalat. Bukan mengenai berapa banyak uang yang disumbangkan untuk amal jariyah, seberapa terkenalnya kita sebagai orang baik hati di jagad raya, melainkan mengenai shalat wajib yang kita lakukan. Apabila shalat wajib tidak mencukupi, bisa ditambal sulam oleh shalat sunah yang kita kerjakan. Lalu, kalau ternyata shalat wajib kita alpa, boro-boro dilakukan... tiap mendengar adzan saja selalu diacuhkan! Kalau begitu bisa-bisa "kebaikan hati" kita kepada semua manusia selama ini juga tidak dapat diterima, karena ternyata ujian saringan awal saja kita tidak lulus. Shalat yang merupakan perkara Hablumminallah adalah syarat mutlak yang tidak dapat ditawar-tawar. So, Mana yang Lebih Prioritas? Hablumminallah Dulu, Baru Hablumminannaas! Kita tetap harus memprioritaskan hablumminallah sebelum hablumminannaas. Dalam hal ini, kita bisa melihat dari seruan al-Quran yang selalu mengedepankan "Dirikan shalat!" baru kemudian "Tunaikan zakat!" bukan sebaliknya. Artinya, seberapa pun sibuknya aktivitas sosialmu, jikalau waktu shalat sudah tiba, kedepankanlah shalat. Jangan dengan dalih... ah, saya kan lagi melakukan kebaikan juga, akhirnya shalat kita malah terlalaikan. Namun jangan terjebak menjadikan shalat sebagai aktivitas ritual belaka, yang dilaksanakan karena wajib, bukan karena kesadaran penuh. Kualitas shalat kita ini bisa teruji dari kualitas hubungan sosial kita dengan sesama manusia, seperti yang telah kita bahas di atas. Bahkan, kita mustinya mempelajari shalat lebih dalam dan lebih maknawi dengan membaca buku-buku yang mengupas khusus tentang shalat. Jangan puas sekedar menghapal bacaan dan tata cara shalat, karena perkara shalat bukan masalah sepele. Bayangkan... demi untuk memerintahkan shalat 5 waktu, nabi Muhammad Saw. sampai langsung diutus ke Sidratul Muntaha, menghadap Allah ke langit ketujuh! Bukan main... So, cek kondisi hubungan vertikal kita pada Allah manakala kita merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan hablumminannaas kita! Mudah-mudahan Allah mengampuni kege-eran kita yang merasa hubungan kita dengan-Nya dekat. 2. Hablumminannaas Penting Sebagai Indikator Coba perhatikan bunyi kesaksian kita syahadat! Bukankah harus terdiri dari dua kalimat? Jika kurang satu maka syahadat kita tidak diterima. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Itulah yang tertulis di atas pintu syurga, sebagai syarat memasuki gerbangnya. Lalu, apa sebenarnya peran nabi Muhammad Saw.? Yap, tentu saja sebagai penyempurna akhlak manusia. Baik akhlak kepada Allah, maupun akhlak kepada sesamanya. Kalau begitu jelaslah bahwa hanya menjaga hubungan dengan Allah saja tidak cukup, misalnya dengan bersemedi, bertapa di goa-goa, berpuasa 40 hari dan mengungsi ke atas gunung, terus-terusan shalat dan puasa. Bukan itu yang diminta oleh ajaran agama! Rasulullah Muhammad Saw. merupakan contoh terbaik bagaimana seharusnya kita berhubungan dengan manusia, dengan suami, dengan istri, dengan anak, dengan tetangga, dengan masyarakat, dengan rakyat kecil, bahkan dengan penganut agama lain. “Hablumminannaas inilah indikator penting apakah hablumminallah kita sudah sesuai dengan aturan. Tidak mungkin hablumminallah kita baik jika kita hobi berdebat di masjid membidahkan sesama umat Islam”.